Tarikannya harus pas. Ibarat hubungan.

Cih.

Sudah Jumat. Sebentar lagi Senin.

Sudah ke kantor lagi.

Sudah ada deadline baru menanti.

Dan saya duduk leyeh-leyeh internetan baca ask.fm orang yang ditanya siapa jodohnya, dan jawabannya

Kalau lebih tua, seperti Khadijah.

Kalau lebih muda, seperti Aisyah.

Aak. Nabi Muhammad? Punya ask.fm? Aak. Bukan ternyata. Penggemarnya. Seperti Khadijah. Seperti Aisyah.

Sudah. Sudah. Sudahlah.

Another good one from @newsplatter. By the way, dunno kenapa baca yang begini.

Last friday, had an awe-day with Kak Wita (with her fierce-blue-hair), Kak Rudy, Kak Kenshi, Kak Eugen & Eve at Nutmeg Cuisine & Bar.

A sudden photoshoot for fashion spread. A sudden interview for culinair column.

Happy Eid Mubarak!

This comes your way with warmest thoughts and happy wishes too, to hope your Eid Day will be as wonderful as all of you!

XOXO

CosmoGIRL(s)!

P.S.: A card from office. Cie office.

Say yes, Car.

Kala ibu jariku dan ibu jarimu saling bertemu,

tertuang sebongkah batuan rindu.

Kala ibu jariku dan ibu jarimu saling bertaut dan bersapa,

terjatuh setetes lautan rasa.

—-

Kala kita berselimut cita.

—-

19.07.14 | Di atas kopaja. Menunggu waktu berbuka.

Yang paling diuji dari bulan Ramadhan ini adalah hari-hari libur dan akhir pekan yang acapkali bikin jengkel hati. Sia-sia sudah merencanakan buka bersama jauh-jauh hari. Bukan, bukan dengan teman SMA untuk kumpul haha-hihi. Tapi dengan keluarga, dengan sanak famili.

Setelah setiap hari berangkat pukul lima sampai rumah ba’da Isya. Tentu sesekali ingin menunggu kumandang adzan bersama keluarga. Tetapi, Magrib di hari libur pun waktu tetap tersita.

Oleh PR yang masih menumpuk di tempat kerja. Oleh rekan kerja yang terlalu giat sampai lupa waktu berbuka. Atau oleh jalanan yang macetnya tiap hari makin menggila.

Baru-baru ini di hari Sabtu ada rapat kerja. Rencana selesai pukul dua. Molor sampai satu jam sebelum berbuka. Dilema antara kerjaan dan momen bersama keluarga. Lekas pulang agar cepat bersua.

Tapi jalanan berkata berbeda. Macet luar biasa. Lebih dari tiga puluh menit stuck di tempat yang sama. Waktu habis tak tersisa. Adzan Magrib pun bergema. Pupus sudah si asa.

Jalanan itu keras. Bikin lupa lapar dan dahaga. Bikin emosi berkuasa.

Salut untuk para pria & wanita berkeluarga yang bekerja.

Di antara kemacetan Jakarta, tentu ada mereka. Yang ditunggu anak, sanak saudara dan orang tua. Untuk menunggu kumandang adzan bersama.

“Sesekali rasa tak perlu bercampur dengan rasio, agar tak berubah menjadi ego.”
— SS
“Everthing flows. Ever changing. Ever moving.”
— Pantareiad
“Seperti bumi yang terus berotasi, langkah kami untuk berbagi belum selesai di sini.”
— Rumah Belajar Phinisi