Retak karena rapuh. Atau retak karena sering terjatuh.

It’s a question without any sign.

Bahagia itu sederhana. Sesederhana makan es krim yang harganya cuma dua ribu tapi ajaibnya bisa bikin capek sirna.

Harga bukan perkara. Karena bahagia menyoal syukur atas apa yang sudah ada.

"Happiness is not a given. It’s a choice.
We get to decide!”

Selamat hari Sabtu!

Bahagia itu sederhana. Sesederhana makan es krim yang harganya cuma dua ribu tapi ajaibnya bisa bikin capek sirna.

Harga bukan perkara. Karena bahagia menyoal syukur atas apa yang sudah ada.

"Happiness is not a given. It’s a choice.
We get to decide!”

Selamat hari Sabtu!

I’m about two weeks using this Andro.

A finally, setelah sok ide dan terlalu nyaman dengan not-too-smart-but-not-too-dumb-phone. A flip-phone of mine, from Samsung. Yang kameranya mungkin masih VGA, dan hanya bisa SMS dan telfon.

Aplikasi yang ada di smartphone itu luar biasa loh ya. Literally. It helps a lot.

Mulai dari organizer, planner, daily post it, you name kind of it yang ngebantu banget untuk catat jadwal dan agenda penting. Atau penunjuk jalan kaya Google Maps dan Waze, Docs To Go yang bikin mikir “Bye PC & Notebook, don’t need you guys anymore, I have an Andro, it’s smaller and smarter,” atau bahkan Soundhound yang bisa nebak lagu (!) kaya TrackIDnya Sony.

The coolest ever is Track My Budget apps. Berguna banget untuk tau pengeluaran dan pemasukkan. Pengeluaran piyik macem transport, jajan, parkir, wardrobe, sampai entertain and else bisa tercatat rapi dan ada rekapitulasinya. Bisa juga ketauan berapa pengeluaran kita untuk jajan setiap minggunya, atau berapa pengeluaran transport tiap bulannya.

Nggak berhenti sampai situ tentunya, setelah di akhir bulan liat rekapitulasi pengeluaran, dari situ bisa jadi koreksi diri, misal terlalu banyak spend money di jajan, trus bulan depan bikin target jajannya sekian rupiah aja. Karena ternyata pengeluaran yang besar itu seringkali pengeluaran yang nggak kita sadar. Ya fotocopy, jajan-jajan pinggir jalan, parkir atau yang lainnya.

Serius, ini ngebantu banget untuk yang slordig. Slordig dalam hal finansial. Hoho. It’s meh.

Lalu, apa #30daysnewhabit-nya?

Smartphone isn’t that smart to make you smarter. Dikendalikan atau mengendalikan.

Itu dia. Susahnya. Kalau kata seorang sociopreneur muda, bukan susah tapi tantangan. Iya, tantangan.

Banyaknya fitur hiburan dan social media kadang bikin orang anggap shallow para smartphone user. Terlalu asik sendiri, nggak tau tempat dan sikon, nggak peduli sekitar sampai nggak sadar kalau udah diperbudak.

Makanya, pengguna ponsel pintar seharusnya lebih pintar, at least setingkat lebih pintar dari ponselnya. Selain berbagi momen di Path atau mandiin Pou yang bikin nagih, harus biasain juga untuk nggak tergantung dengan fitur yang lain. Nggak bisa ngapa-ngapain karena smartphonenya low battery? Duile.

Yang jelas sih harus ngebiasain untuk rajin catet jadwal, input pengeluaran ke Track My Budget, lebih terorganisir soal apapun dan balancing biar smartphonenya nggak hanya untuk main tapi juga (beneran) untuk kerjaan dan (beneran) untuk kuliah, dan sebaliknya.

Mau nonton di bioskop? Cek aja jadwal 21 Cineplex. Nggak tau arah jalan ke lokasi event? Cari aja jalan lewat Waze. Eh ada lagu enak, judulnya apa ya? Soundhound tau jawabannya! Kejebak macet, tapi ada deadline yang udah ditagih? Buka aja langsung Docs To Go.

Hohohohohohohoho.

Jadi, sekarang Sarah sudah merasa sepintar atau lebih pintar dari ponsel pintar? ;-)

“Be with someone who would drive five hours, just to see you for one.”
— (via bebebhella)

(via erisarviana)

"…kalaulah kudapat membaca pikiranmu, dengan sayap pengharapanku ingin terbang jauh……"

Babak belur sama yang ini. Close to midnight. I just wake up suddenly and download this one. Can’t stop crying. And have no idea about everything.

Sulit, nyatuin pikiran kalau maunya kerja sendiri. Sulit, nyatuin visi kalau maunya jalanin misi dari sudut pandang sendiri.

Sulit sampai melilit.

Tarikannya harus pas. Ibarat hubungan.

Cih.

Sudah Jumat. Sebentar lagi Senin.

Sudah ke kantor lagi.

Sudah ada deadline baru menanti.

Dan saya duduk leyeh-leyeh internetan baca ask.fm orang yang ditanya siapa jodohnya, dan jawabannya

Kalau lebih tua, seperti Khadijah.

Kalau lebih muda, seperti Aisyah.

Aak. Nabi Muhammad? Punya ask.fm? Aak. Bukan ternyata. Penggemarnya. Seperti Khadijah. Seperti Aisyah.

Sudah. Sudah. Sudahlah.

Another good one from @newsplatter. By the way, dunno kenapa baca yang begini.

Last friday, had an awe-day with Kak Wita (with her fierce-blue-hair), Kak Rudy, Kak Kenshi, Kak Eugen & Eve at Nutmeg Cuisine & Bar.

A sudden photoshoot for fashion spread. A sudden interview for culinair column.