Say yes, Car.

Kala ibu jariku dan ibu jarimu saling bertemu,

tertuang sebongkah batuan rindu.

Kala ibu jariku dan ibu jarimu saling bertaut dan bersapa,

terjatuh setetes lautan rasa.

—-

Kala kita berselimut cita.

—-

19.07.14 | Di atas kopaja. Menunggu waktu berbuka.

Yang paling diuji dari bulan Ramadhan ini adalah hari-hari libur dan akhir pekan yang acapkali bikin jengkel hati. Sia-sia sudah merencanakan buka bersama jauh-jauh hari. Bukan, bukan dengan teman SMA untuk kumpul haha-hihi. Tapi dengan keluarga, dengan sanak famili.

Setelah setiap hari berangkat pukul lima sampai rumah ba’da Isya. Tentu sesekali ingin menunggu kumandang adzan bersama keluarga. Tetapi, Magrib di hari libur pun waktu tetap tersita.

Oleh PR yang masih menumpuk di tempat kerja. Oleh rekan kerja yang terlalu giat sampai lupa waktu berbuka. Atau oleh jalanan yang macetnya tiap hari makin menggila.

Baru-baru ini di hari Sabtu ada rapat kerja. Rencana selesai pukul dua. Molor sampai satu jam sebelum berbuka. Dilema antara kerjaan dan momen bersama keluarga. Lekas pulang agar cepat bersua.

Tapi jalanan berkata berbeda. Macet luar biasa. Lebih dari tiga puluh menit stuck di tempat yang sama. Waktu habis tak tersisa. Adzan Magrib pun bergema. Pupus sudah si asa.

Jalanan itu keras. Bikin lupa lapar dan dahaga. Bikin emosi berkuasa.

Salut untuk para pria & wanita berkeluarga yang bekerja.

Di antara kemacetan Jakarta, tentu ada mereka. Yang ditunggu anak, sanak saudara dan orang tua. Untuk menunggu kumandang adzan bersama.

It’s dark here.

“Sesekali rasa tak perlu bercampur dengan rasio, agar tak berubah menjadi ego.”
“Everthing flows. Ever changing. Ever moving.”
— Pantareiad
“Seperti bumi yang terus berotasi, langkah kami untuk berbagi belum selesai di sini.”
— Rumah Belajar Phinisi

Phinisi Festival 2014 team. Pecah dan penuh air mata :’-D

P.S: Bunch thanks for help, Kak Bayu, Jess, Kak Prav, Dilla, Tyas, Tiara, Kak Dwi, Irma, Febri, Arick, Ghassan, Arnold, Ocha, Risty, Sasa, Risma, Kak Panji and else. Bunch hugs and kisses for the kids ;-)

  • Me: Gue item ya?
  • Josua: Iya lo item. Idih lo item banget. Gada cowo yang mau sama cewe item. Satu-satunya cowo yang mau sama cewe item cuma cowo lo doang. Item lo. Item banget. Iya kan Ji dia item? Idih elo item. Gosong. Item banget.
  • Josua, setelah nginep-nginepan sama Aji sambil nonton AADC. Diajak ngomong satu kalimat, dijawabnya satu buku.

“If there is no ups and downs, it means that you are dead.”

Don’t know why, it beats so fast. So fast just like no ups and downs. I’m deathly-alive then.

It’s May and going to be June.

Tugas-tugas seakan beraliansi. Agar deadline terus membebani. Kantung mata pun kian menjadi.

Tapi awal liburan ada di Juni.

Hey June, don’t make it bad. :-)

  • Dalam pengasingannya, Yudhistira, satu dari lima Pandawa diuji oleh Batara Yama, Ayah sekaligus Dewa Kematian yang menyamar.
  • Batara Yama: Apa yang menyebabkan matahari bersinar setiap hari?
  • Yudhistira: Kekuatan Brahman.
  • Batara Yama: Apa yang menyelamatkan manusia dari mara bahaya?
  • Yudhistira: Keberanian.
  • Batara Yama: Ilmu apakah yang bisa membuat manusia bijaksana?
  • Yudhistira: Untuk menjadi bijaksana, tidak cukup hanya dengan membaca kitab-kitab. Dengan bergaul dengan orang-orang bijak, orang bisa mendapatkan kebijaksanaan.
  • Batara Yama: Apakah yang lebih mulia dan lebih menghidupi manusia daripada bumi ini?
  • Yudhistira: Ibu, yang melahirkan dan membesarkan anak-anaknya, lebih mulia dan memberikan hidupnya yang lebih besar daripada bumi ini.
  • Batara Yama: Apakah yang lebih tinggi daripada langit?
  • Yudhistira: Bapak.
  • Batara Yama: Apakah yang lebih cepat daripada angin?
  • Yudhistira: Pikiran.
  • Batara Yama: Apakah yang lebih berbahaya daripada jerami kering pada musim panas?
  • Yudhistira: Hati yang dilanda duka nestapa.
  • Batara Yama: Apakah yang menemani seorang pengembara?
  • Yudhistira: Kemauan belajar.
  • Batara Yama: Siapakah yang menemani seorang laki-laki di rumah?
  • Yudhistira: Istri.
  • Batara Yama: Siapakah yang menemani manusia dalam kematian?
  • Yudhistira: Dharma. Hanya Dharmalah yang menemani jiwa dalam perjalanan sunyi setelah kematian.
  • Batara Yama: Perahu apakah yang paling besar?
  • Yudhistira: Bumi, yang menampung segala isinya dalam dirinya sendiri adalah perahu terbesar.
  • Batara Yama: Apakah kebahagiaan itu?
  • Yudhistira: Kebahagiaan adalah buah dari perbuatan baik.
  • Batara Yama: Apakah yang jika ditinggalkan manusia akan membuatnya dicintai sesama?
  • Yudhistira: Keangkuhan.
  • Batara Yama: Kehilangan apakah yang membuat orang bahagia dan tidak sedih?
  • Yudhistira: Amarah.
  • Batara Yama: Apakah yang harus ditinggalkan manusia supaya menjadi kaya?
  • Yudhistira: Hawa nafsu.
  • Batara Yama: Apa yang membuat seseorang menjadi brahmana sejati? Apakah kelahiran, kelakuan baik, atau pendidikan? Jawab dengan tegas!
  • Yudhistira: Kelahiran dan pendidikan tidak membuat orang menjadi brahmana. Setinggi apapun pendidikan jika diperbudak kebiasaan jelek, orang itu bukan brahmana. Meskipun telah menguasai keempat kitab Weda, jika kelakuannya buruk, tidak pantas disebut brahmana.
  • Batara Yama: Apakah yang paling mengherankan di dunia?
  • Yudhistira: Setiap hari orang melihat orang pergi menghadap Batara Yama (Dewa Kematian), tapi orang-orang masih saja berusaha untuk hidup lebih lama lagi. Inilah yang paling mengherankan di dunia ini.
  • Batara Yama puas mendengar jawaban putranya. Ia pun menampakkan wujudnya yang asli.

Just finished Mahabharata. Epik! Bagus sekali ceritanya!

Lika-liku sifat manusia; budi luhur, dharma, tata krama, licik, culas, tamak, tipu dayanya; semua ada. Seven thumbs up :-)